Monumen Pemakaman Kristen Oikumene

Pemakaman berada di jalan R. A Kartini/Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota. Saat ini pemakaman diurus dan dikelola oleh Yayasan Oikumene Kalimantan Barat. 

Monument dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Pontianak yang bertujuan untuk mengenang peristiwa tenggelamnya kapal milik Belanda di Kapuas Kecil pada tanggal 27 Maret 1903 yang menelan korban anggota militer Belanda sebanyak 15 orang dan dimakamkan di makam tersebut

Pada pemakaman ini terdapat monumen peninggalan masa penjajahan belanda, monumen pada pemakaman ini ± setinggi 3 meter. Monumen menghadap timur laut, berbatasan langsung dengan makam di sisi utara, timur dan barat, kemudian di selatan berbatasan rumah dan jalan kartini. Monumen berbentuk persegi panjang, posisi berdiri dengan kondisi utuh namun ada beberapa bagian yang pecah. Monumen memiliki ukuran tinggi 3, 19 meter dan lebar 40 cm. Monumen berwarna abu-abu, struktur berbahan dasar beton, kemudian marmer bagian depan sebagai prasasti yang bertuliskan 15 nama anggota militer Belanda. 

Pada monumen tertulis nama-nama dan tulisan berbahasa belanda. Tulisan tersebut bertuliskan “Untuk Mengenang Peringatan Tragedi 27 Maret 1903 di Sungai Kapuas Kecil” pada bagian atas. Serta dibawahnya tertulis “Para Tentara yang Gugur” serta di bagian bawahnya tertulis nama-nama dengan urutan 1 hingga 15 yaitu, 

  1. E. Antvenling Evr Serg
  2.  Alg. Stamboek,
  3. F.H. Van Meenen
  4. Er. Korpl, G. E Berger
  5. Eijsman, A. R. Giesberts FVS.,
  6. J. H. Van Gerris Eim,
  7. A. Moots,
  8. C. Kohblan SK,
  9. P.M.H Vers Tappen,
  10. W. F. Walter,
  11. Singokerto,
  12. Paiman,
  13. Kriomo Suntons,
  14. Kassan
  15. Kasim.

Kondisi monumen saat ini dalam kondisi melesak di salah satu sisi monument karena penurunan tanah dan dipengaruhi pula oleh kondisi tanah rawa, terdapat genangan air di pinggir monument tersebut. Terdapat pula parit dan pemukiman warga sekitar 10 meter dari monument. Parit tersebut dalam kondisi menggenang atau tidak mengalir, menurut informasi warga setempat jika air pasang parit terkadang meluap dan air dapat naik hingga sekitar 50 cm yang berarti menenggelamkan monument hingga monument tersebut. Sehingga kemelesakkan monumen dapat terus terjadi jika kondisi tanah masih dalam keadaan air menggenang dan kondisi tanah rawa. Kondisi monumen saat ini ditumbuhi tanaman pengganggu hingga dibagian atas monument disertai pula keretakkan di beberapa bagian monument dan lumut memenuhi bagian bawah monument.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kantor Pos Rahadi Usman

SD Negeri 14 Pontianak

Meriam Wisma Tanjung Ria